Blogger Jateng

Refleksi Guru Di Hari Guru Nasional

Sebuah Refleksi.

Hari ini tanggal 26 Nopember 2018 bertepatan dengan hari guru nasional. Sebuah penghargaan pemerintah menetapkan hari guru nasional.

Saya bisa dibilang guru. Sebagai profesi. Karena saya tengah menjadi tenaga pengajar. Tapi saya juga sekaligus murid, sebab ada banyak guru yang mengajari saya. Dulu atau bahkan sekarang juga masih jadi murid.

Dalam pandangan saya, guru tetaplah guru. Entah itu namanya ustadz atau kiai. Atau bahkan dipanggil dengan sebutan kang, cak, kakak, mamang, atau om sekalipun. Definisi simplenya guru adalah orang yang memberikan pelajaran kepada kita atas dasar kesepakatan awal bahwa kita mau diajari atau dididik. Karena definisi saya ini, mungkin ada beberapa orang yang memberi pelajaran sepintas atau secara memberi pelajaran secara tidak langsung dan tanpa ada kesekatakan lalu tidak disebut guru.

Oleh karena itu pula, maka menghormati guru mutlak kewajiban siswa. Bagaimanapun kondisinya. Meski, misalnya, seorang guru tersebut telah menjadi pesakitan jeruji atau narapidana. Bagi saya hukumnya tetap wajib menghormati guru. Itu filosofi saya.

Saya, misalnya, tetap menghormati guru dengan cara mencium telapak tangannya atau menunduk dihadapannya meski secara status sosial saya bisa dibilang lebih tinggi darinya. Karena bagaimana pun dia guru saya. Tidak berlaku hukum malu bagi saya dalam menghormati guru. Beberapa kerabat, teman atau bahkan murid saya sendiri pernah sesekali bertanya karena heran ketika saya bersalam dengan seseorang dan saya cium telapak tangannya. Saya terang-terangan bilang, itu guru saya.

Kadang saya merasa miris melihat fenomena zaman sekarang ketika seorang murid tidak menghormati guru, acuh, bahkan melawan. Jika bertemu dengan guru bukan menyapa dan menghampiri, bahkab parahnya pura-pura amnesia dan memalingkan muka. Jika melihat seperti itu saya sering berpikir, apakah selama ini saya tidak mengajarkan sopan santun atau apakah saya tidak pernah memberi contoh.

Termasuk yang saya garis bawahi hubungan guru dengan murid. Bahwa perbedaan pandangan atau bahkan partai tidak menggugurkan kewajiban murid untuk menghormati guru. Meski itu harus ditunjukkan secara formalitas. Sebab jika tidak, seolah murid merusak muruah atau kehormatannya sekaligus kehormatan gurunya.

Di moment peringatan hari guru ini, mati mari kembalikan nilai dan karakter muslim hubungannya dengan korelasi guru dan murid. Sebagai penutup, penghormatan itu bukan penyembahan. Lalu mengapa mesti tabu tahu  harkat dan derajat bukan ditentukan oleh status sosial, tetapi akhlak dan iman yang terangkum dalam ketakwaan.

Selamat hari guru!