Blogger Jateng

Obat Gatal Penyakit Santri (Budug/Cengkreng) Dan Penyebabnya

Obat Gatal Penyakit Santri (Budug/Cengkreng) Dan Penyebabnya--Kenapa santri budug?--Dulu, ketika saya modok, saya mengalami penyakit gatal. Dalam bahasa sunda disebut budug atau cengkreng. Suatu kondisi gatal sebadan dengan bintik-bintik merah sebadan. Sementara cengkreng identik tangan yang penuh bintik bernanah.

Penyakit gatal itu bahkan saya alami tak hanya sekali. Sejak SD kelas lima disaat bergaul dengan santri saya mengalaminya. Atau ketika pindah mondok dua kali, penyakit gatal itu menyerang nyaris sama dengan yang mula-mula. Waktu di Ciwaringin Cirebon juga Waktu di PP Annuqayah Guluk-guluk Sumenep Madura Jawa Timur. 

Dari tiga kali mengalami penyakit itu, jenis penyakitnya mungkin sama dilihat dari tanda-tanda dan rasa gatal yang dialami. Tandanya bintik-bintik yang awalnya putih-putih jernih seperti bintik air. Lama-lama muncul ke permukaan warnanya berubah agak hijau hingga makin besar menjadi kuning khas warna nanah. Lalu pecah (bucat). Saat pecah biasanya bercampur warna merah karena ada darahnya. Biasanya dari pecahan itu menular ke bagian badan yang lain. 

Dari tempatnya, biasanya penyakit gatal itu terletak di sela-sela anggota badan seperti antara jari tangan atau kaki dan di anggota badan yang sering dipakai bersentuhan dengan lingkungan seperti tangan dan kaki. 

Lebih lanjut, dari sisi keyakinan, ada kepercayaan, yang dalam paham saya, saya sebut mitos bahwa seorang santri diakui kesantriannya ketika dia telah merasakan penyakit gatal. Dulu saya percaya itu. Bahkan dalam hati ada sedikit rasa bangga telah diakui sebagai santri. Seakan-akan penyakit gatal adalah sertifikat atau stempel setelah selesai masa orientasi santri baru.

Setelah dipikir-pikir dan melalui perbandingan, saya pikir penyakit gatal pada santri baru sebagai 'peresmian' adalah mitos. Buktinya, di pesantren-pesantren modern banyak santri yang tidak melewati fase penyakit gatal-gatal itu. Apakah lantas para santri pondok modern yang tidak mengalami penyakit gatal lalu tidak dianggap sah sebagai santri? Kan tidak demikian juga.

Dalam pandangan dan analisis saya, penyakit gatal-gatal yang dialami santri baru adalah murni penyakit. Pertanyaannya, lalu mengapa penyakit itu hampir dialami oleh hampir semua santri baru? Mari kita bahas penyebabnya.

Ada beberapa faktor yang membuat santri baru terkena penyakit. Pertama, pola makan. Perbedaan pola makan dan gizi di rumah dan di pesantren sedikit banyak melemahkan daya tahan tubuh. Padahal daya tahan tubuh adalah pertahanan penting menangkal penyakit.

Kedua, dari jenis air yang berbeda. Jenis air di rumah atau di pesantren lamanya berbeda dengan jenis air di pesantren baru. Ini menyebabkan respon berbeda badan pada air. Sehingga, karena daya tahan tubuh melemah karena faktor pertama tadi, Kuman yang bahkan sedikit dan ringan saja dapat menyerang anggota tubuh yang mengakibatkan penyakit gatal.

Ketiga, perbedaan lingkungan dan cuaca. Disaat daya tahan tubuh melemah, cuaca yang berbeda di banding lingkungan sebelumnya membuat daya tahan tubuh lemah. Ibarat badan terombang ambing cuaca dan belum sepenuhnya dapat menyesuaikan. Memang kadang butuh waktu bagi tubuh untuk dapat menyesuaikan diri dengan cuaca atau lingkungan barunya. Pada saat itulah penyakit menyerang.

Keempat, pola makan yang sering tidak teratur membuat lambung kurang menjalankan fungsinya dengan baik. Kuman dan asam lambung yang kadang naik kadang turun bisa mengakibatkan kuman dengan mudah masuk menyerang ke dalam sistem kekebalan tubuh tersebut dan mengobrak abriknya.

Kelima, faktor kebersihan lingkungan. Jujur, dari sisi ini saya boleh jujur, lingkungan pesantren salaf yang berpenampilan seadanya menggambarkan kesederhanaan dan apa adanya acapkali abai terhadap keresikkan, kebersihan lingkungan. Tentu mamang tak semua pesantren salaf begitu. Ada juga yang bersih dan rapi. Tapi mayoritas memang demikian. Dan hal itu tentunya yang mengundang kuman untuk datang dan betah serta menyerang manusia penghuninya. Saya merasakan sendiri, seperti kurangnya fentilasi udara dan sirkulasi angin ditambah pencahayaan ruangan yang redup mendekati gelap menambah situasi nyaman untuk kuman atau penyakit bersemayam.

Keenam, kondisi mental dan pikiran santri itu sendiri menghadapi lingkungan baru dapat menimbulkan jenis stress. Nah, stress pikiran berpengaruh pada kesehatan badan, terutama kesehatan lambung. Faktor ini bisa juga dianggap dominan. Sebab pikiran yang sehat tanpa stress sebetulnya adalah antibody gratis paling kuat untuk menangkal datangnya pelbagai penyakit.

Itulah mengapa penyakit gatal-gatal mayoritas menyerang santri baru di sebagian banyak pesantren salaf dan jarang menyerang santri di sebagian besar pesantren modern. Sebab pesantren salaf dikenal dengan kemandirian hatta urusan makan dan gizi sehingga wajar jika gizi dan asupan vitamin santri salaf lebih tak terkontrol dan diserahkan ke masing-masing diri si santri tersebut. Sementara di pesantren modern, urusan makan diatur sedemikian rupa dari segi jadwal makan hingga asupan gizi dan vitamin yang dikonsumsi santrinya.

Wallahu a'lam bisshawab.