Blogger Jateng

Anak Dalam Eksploitasi Media

Hak anak mesti dijaga dengan baik. Janin, bayi, atau anak-anak memiliki hak asasi setara dengan hak orang dewasa. Hormat pada hak anak berarti hormat pada kemanusiaan (Silvano Tomasi CS).

Masivitas transformasi informasi (baca: media) memunculkan dampak serius. Dalam dunia anak, banyak kasus menyiratkan bahwa perilaku bandel, nakal, agresif, bermusuhan, dan perilaku buruk anak yang lain berpangkal pada konsumsi keseharian mereka atas media, terutama (tontonan) televisi. Selain televisi, banyak media serupa yang menjual “berita” yang kemudian “termakan” oleh anak-anak.

Mata anak-anak terlalu sering disuguhi tontonan smack down, horor, sadisme, atau seksual/porno. Tanpa sadar pikiran anak dikuasai “pola pikir” negatif sajian media yang mereka konsumsi tersebut. Sementara daya kritisisme anak-anak lemah. Akibatnya, suguhan media yang tadi disebut “diadopsi” anak nyaris tanpa filter.

Eksploitasi Anak

Apa yang dipaparkan tadi adalah bentuk imperialisme kultural. Kesadaran anak sedemikian rupa dijajah oleh “ideologi” yang disajikan media. Sementara orangtua acap lalai membimbing dan menjelaskan secara lebih utuh menu media tersebut kepada anak-anak. Lengkaplah! Imperialisme kultural kesadaran makin menjadi-jadi. Bahkan pada perkembangan ekstrimnya, imperialisme kultural itu makin parah dengan “melegitimasi” adanya eksploitasi anak.

Anak lalu tak lagi dipandang sebagai “aset” bangsa yang perlu bimbingan atau arahan. Anak malah dieksploitasi demi kepentingan ekonomi. Ekspansi media kemudian mendorong anak untuk latah meminati sajian sensasional dan eksentrik. Sikap latah anak yang demikian itu lalu diterjemahkan media melalui kacamata pasar dan keuntungan finansial. Kegandrungan anak pada tontonan yang merusak dibaca media sebagai pangsa pasar yang menggiurkan.

Pada gilirannya, media justru memperparah kondisi psikologis anak dengan terus menerus mereproduksi sajian yang laris dikonsumsi anak itu. Media tak peduli sajian itu sehat atau tidak untuk anak-anak. Media hanya berpikir bagaimana produksi sajian mereka meraup banyak konsumen, banyak laba. Media—“gadungan”—agresif melakukan ekspansi pada kesadaran anak demi laba dan lupa memikirkan dampak yang diakibatkannya itu.

Kadang masih ada media anak-anak yang secara keseluruhan bersikap tidak “ramah”. Seringkali muncul media yang menawarkan dunia anak-anak dengan maksud eksploitasi seperti yang telah dipaparkan tadi. Katakanlah yang demikian itu semisal komik jepang yang kerap menyelipkan cabul atau sadis dalam alur ceritanya.

Di samping itu, media seringkali sengaja menciptakan ketergantungan pada anak-anak. Nyaris Tidak ada yang secara berani mencerdaskan anak tanpa embel-embel ketergantungan dan ekses negatif yang ditimbulkan kemudian. Lagi-lagi kepentingan kapital atau keuntungan finansial yang berperan dalam hal ini.

Luput Perhatian Orangtua

Parahnya, realitas perilaku media yang demikian luput—mungkin karena ketidaktahuan--dari perhatian orangtua.

Dengan tanpa merasa berdosa, orangtua merasa bangga ketika mampu membelikan anaknya televisi atau, bahkan, akses internet tanpa kontrol lebih lanjut atas penggunaan kedua media itu. Sementara itu, transformasi pendidikan nilai dan pembangunan nalar kritis merangkak lambat. Disamping lemahnya daya sensor anak, membludaknya sajian media sangat menyulitkan anak untuk menyerap segala informasi secara selektif. Tampaknya yang terakhir tadi juga terjadi pada orang dewasa (baca: orangtua anak).

Menuntut Tanggungjawab

Di tengah gempuran demoralisasi media, pembinaan kepribadian dan watak anak menjadi agenda mendesak untuk segera digalakkan. Pembentukan dan perkembangan kepribadian serta kritisisme perlu melibatkan segenap anasir masyarakat.

Eksploitasi anak oleh media kerapkali mewujud dalam rupa menawan; media membungkusnya dengan visi kamuflatif: mencerdaskan, mengembangkan imajinasi, atau memperluas pengetahuan anak. “penyamaran” model demikian yang mesti diwaspadai dengan teliti. Jangan sampai orangtua, pendidik, dan masyarakat kecolongan oleh kamuflase yang diciptakan media itu. Karena jika demikian, anak-anak bangsa akan menjadi korban—dari mulai korban eksploitasi media, korban globalisasi, korban kapitalisme, sampai kemudian korban sejarah dan peradaban.

Karenanya keseriusan membimbing anak-anak berarti keseriusan membendung tindak eksploitasi anak, yang dilakukan media. Membendung terjadinya eksploitasi anak berarti betul-betul serius menyiapkan kader bangsa yang kritis, cerdas, dan tercerahkan.