Sekali membaca artikel dibayar 10 dollar

Bisnis Sampingan bagi Kutu Buku dan Penulis

Sunday, April 18, 2010

DIGITALISASI PERPSTAKAAN

Peran perpustakaan bagi Bangsa kita--yang bergerak menuju--modern ini tak dapat diremehkan. Sebab perpustakaan adalah gudang dimana segala ilmu pengetahuan ditulis dan diabadikan. Dari perpustakaan segala ilmu dapat digali, didalami, sekaligus dikembangkan.
Ilmu pengetahuan bersifat dinamis. Ia terus bergerak tanpa henti. Selama manusia hidup, berpikir, dan mencari maka sintesis--sebagai sebuah penemuan dalam ilmu pengetahuan--pada gilirannya akan (selalu) menjadi tesis bagi lahirnya ilmu pengetahuan baru. Dokumentasi, publikasi, dan pewarisan ilmu pengetahuan dari generasi ke generasi, karenanya, menjadi amat penting. Dan perpustakaan, sebagian besar, memerankan posisi amat strategis itu.
Menuju Reading society
Percepatan dalam bidang informasi mendorong dunia yang makin global dan 'mengecil'. Berangkat dari hal itu, secara perlahan masyarakat “dipaksa” sadar betapa pentingnya menjadi tahu melalui membaca. Sebab jika tidak demikian, Bangsa ini akan tertinggal atau bahkan tak akan pernah maju. Syafiq (2002: 04) mencatat, masa keemasan Islam dicapai ketika geliat penulisan dan penerjemahan buku menemukan gairah puncaknya. Setelah geliat itu redup, padam pula masa keemasan itu.
Terbangunnya sebuah budaya sadar membaca di tengah masyarakat adalah impian bangsa yang sejatinya diusahakan menjadi kenyataan. Tidak mustahil impian itu segera terwujud, jika saja perpustakaan di sekolah, di pesantren, dan di setiap instansi formal maupun non-formal doimaksimalkan perannya. Sebab perpustakaan-perpustakaan semacam itu menjadi jantung bagi denyut peradaban. Sedikit demi sedikit, masyarakat digiring menjadi reading society, yaitu ihwal dimana masyarakat merasa butuh untuk membaca sebagai asas bagi tiap aktivitas apapun dalam mejalani hidup. Gambaran sebuah peradaban yang di dalamnya dinamis antara 'memakan' dan 'melahirkan' ilmu pengetahuan dalam bentuk tulisan.
Di tengah masyarakat yang belum atau sedang menuju reading society, seperti juga Bangsa ini, perpustakaan memainkan peran amat signifikan. Karena perpustakaan adalah gudang sekaligus pasar ilmu pengetahuan. Lebih dari itu, Perpustakaan bukan melulu sumber ilmu dan pengetahuan tetapi juga sublimasi multi ilmu pengetahuan yang didapat dari pengalaman nyata, “mengering” dalam bentuk dokumentasi tulisan. Perpustakaan adalah dunia yang mengkerut. Perpustakaan mampu mengatasi jarak serta menembus ruang dan waktu.
Sejatinya, di perpustakaan tersedia pelbagai macam buku bacaan, majalah, jurnal, koran, hingga buletin. Tumpukan berrak-rak buku dari mulai yang jadul (zaman dulu) hingga yang paling anyar nyaris menyajikan apapun yang ingin diketahui. Sebuah potret klasikal keberadaan perpustakaan yang--sejak dikenal sebutan perpustakaan--hingga kini nyaris tak ada perubahan bentuk dan “penampilan”.
Perpustakaan identik dengan hutan buku, lembaran-lembaran kertas dan dokumentasi, serta suasana yang hening dan khidmat. Terkadang di beberapa sudut terkesan kumuh dan “klasik” dengan buku-buku dan manuskrip zaman doeloe untuk memberi kesan klasik. Suatu deskripsi tempat yang diyakini memberi kesan ilmiah dan kondusif bagi pengunjung dalam menyerap informasi dan ilmu pengetahuan dari buku-buku yang tersedia.
Perpustakaan Digital, Perpustakaan Masa Depan
Deskripsi suasana dan bentuk perpustakaan sebagaimana sedikit disinggung di atas nampaknya sah dipertanyakan kontekstualisasinya dengan zaman. Sebab, selain terkesan mendekati deskripsi suasana kuburan, perpus model itu tidak lagi cocok dengan karakter percepatan zaman kekinian. Dan wacana digitalisasi perpustakaan adalah gagasan segar yang patut untuk dikaji serta dicoba penerapannya.
Digitalisasi perpustakaan adalah sebuah proses menjadikan perpustakaan menjadi serba digital. Bahan bacaan dan sumber informasi kemudian tidak melulu berbentuk buku dan lembaran-lembaran kertas, tetapi berupa file dan data. Ada beberapa alasan mengapa digitalisasi perpustakaan penting untuk dipertimbangkan penerapannya; pertama, perpustakaan digital memberi kemudahan akses informasi. Pengunjung (baca: pembaca) tidak lagi disibukkan dengan “mengobrak-abrik” berlemari-lemari buku atau membuka berlembar-lembar katalog dan daftar buku untuk mencari buku yang dimaksud, tetapi cukup membuka komputer dan men-search buku tersebut serta membacanya sekaligus dalam bentuk file. Cara demikian tentu jauh lebih efektif.
Kedua, efisiensi tempat atau ruangan. Ratusan hingga ribuan buku dalam bentuk kertas tentu memakan tempat yang lumayan luas. Dapatlah dikatakan hal demikian kurang efisien. Buku, majalah, jurnal, hingga buletin dalam bentuk file tentu tidak membutuhkan banyak tempat, cukup dalam komputer dengan kapasitas memori yang disesuaikan. Perpustakaan digital semacam tempat yang bersih dari apapun kecuali perangkat komputer dan tempat duduk atau tempat membaca. Tidak ada buku juga tidak ada lembaran-lembaran dokumen berserakan dan berjubelan dengan lemari dan rak. Sebab buku apapun yang dikehendaki untuk dibaca tersedia dalam bentuk file di komputer-komputer yang telah disediakan.
Ketiga, manajemen perpustakaan digital relatif mudah. Tidak seperti perpustakaan buku dan dokumen kertas, penataan ruangan, pendataan buku, dan pengaturan perpustakaan digital hanya memerlukan ketelatenan mengolah dokumen atau data dalam bentuk file (soft document). Namun pun demikian, perpustakaan digital pada perintisannya membutuhkan kerja telaten ketika kondisi perbukuan masih mengidolakan kertas sebagai bahan buku. Sebab dengan begitu perpustakaan digital membutuhkan kerja mengubah dokumen dan buku kertas tersebut menjadi file yaitu dengan mengetik dan mendesainnya sedemikian rupa dan menarik.
Keempat, mengurangi tingkat penggunaan kertas. Jika banyak perpustakaan memakai sistem digitalisasi, penggunaan kertas Nasional akan menurun. Hal itu satu sisi “mengganggu kehidupan” industri kertas, tetapi dampak positifnya adalah mengurangi tingkat penebangan pohon hutan sebagai bahan pokok pembuatan kertas. Dalam kacamata semacam ini, gagasan digitalisasi perpustakaan sinkron dengan isu besar dunia yaitu global warming dimana peran perpustakaan digital mampu menekan tingkat penggunaan kertas dan penebangan pohon.
Telah nampak, empat argumen di atas mengokohkan gagasan betapa pentingnya digitalisasi perpustakaan. Akomodatif terhadap kemajuan teknologi, salah satunya dengan digitalisasi perpustakaan, adalah langkah tepat menyesuaikan diri dengan kemajuan zaman. Sebab pada zaman ini, gagasan digitalisasi itu menghadirkan kemudahan, efektivitas, dan efisiensi yang, ketiga hal itu, menjadi dasar yang digandrungi oleh banyak orang.
Ada banyak hal atau inovasi dapat ditampilkan oleh perpustakaan digital sebagai sebuah contoh fasilitas perpustakaan. Fasilitas itu semuanya itu memberikan kemudahan bagi pembaca dalam mengakses informasi dan ilmu pengetahuan. Model-model itu misalnya adalah: (1)buku digital berupa file atau soft documen, (2)buku audio yang dengannya pembaca hanya dituntut mendengarkan suara rekaman mengenai tulisan pada buku yang dimaksud secara keseluruhan, dan (3)visualisasi isi buku demi memudahkan pemahaman dan mengembangkan daya imajinasi pembaca terhadap isi buku. Yang terakhir disebut terutama buku-buku yang mendeskripsikan isi berkaitan dengan gambar.
Bukan hanya kemudahan yang didapat dari perpustakaan digital, tetapi juga kecepatan pembaca menyerap serta mengingat informasi dan ilmu pengetahuan. Molenda dalam Kovalchick & Dawson (2003:16) mengokohkan, penyerapan informasi dan pengetahuan melalui media audio, visual, dan audio visual memberi semacam dramatized experience. Hingga kemudian hal itu memudahkan orang mengingat informasi yang didapat. Bagi anak-anak, proses belajar berbasis teknologi semisal komputer memberi nilai lebih. Bright (1983:23) mencatat, pembelajaran anak berbasis teknologi membuat peserta didik lebih cepat mengerti, menguasai, dan mengingat materi.
Gagasan digitalisasi perpustakaan menemukan momentumnya hari ini untuk di-landing-kan. Sebab zaman menuntut respon berupa perubahan yang tentunya ke arah yang lebih baik. Ketika kesadaran membaca masyarakat meningkat, kebutuhan akan informasi dan pengetahuan bertambah, perpustakaan digital adalah alternatif terbaik akses dengan seperangkat kemudahan dan kenyamanan lainnya.
Terbangunnya Reading society memang butuh kerja keras segala pihak. Perpustakaan harus mengambil peran aktif dalam mendorong peradaban dan menggiring masyarakat menuju reading society itu. Perangkat teknologi pada perpustakaan dapat menjadi umpan bagi kegemaran masyarakat berkunjung ke perpustakaan. Sehingga gagasan digitalisasi perpustakaan kemudian menjadi sejalan dengan impian terbangunya reading society, sebuah masyarakat pembaca.

Daftar Pustaka
Mughni, Syafiq A. 2002. Dinamika Intelektual Islam Abad Kegelapan. Surabaya: LPAM.
Kovalchick K and Dawson K. 2003. Educational Technology: An Encyclopedia. Santa
Barbara: ABC-Clio, CA.
Bright, GW. 1983. Explaining The Effeciency of computer Assisted Instruction. AEDS
Journal.

1 bagaimana komentar kamu?:

terimakasih